Tiga Nasihat Bermanfaat

Seperti biasa, aku bersama teman-teman di SMPIT Insan Mandiri  mengawali aktifitas dengan membaca Alma’tsurat bersama, muroja’ah hafalan Al-Quran dan majelis pagi. Muroja’ah kali ini kami membaca  surah Al-Ma’arij, surat yang mengingatkanku pada pembalasan Allah di hari akhir nanti. Ya Allah.. haramkan aku terhadap nerakaMu. Jaga aku, teman-teman, guru-guruku, kedua orangtuaku dan orang-orang yang kucintai dari azabMu, yang memiliki tempat-tempat naik (Minallahidzil ma’aarij).

Pagi ini, Ust. Hakim (Ust Abdul Hakim, S.Kom, MM) memimpin muroja’ah dan majelis pagi. Beliau adalah Kepala Sekolah kami, namun tetap dekat dan ada di hati kami. Kurasakan, bahwa beliau selalu berupaya menyayangi kami sepenuh hati dan membimbing kami agar menjadi anak yang lebih baik.

“Anak-anak, selama 3 menit silakan semua hening dan memberikan 3 nasihat untuk diri sendiri. Lakukan dengan ikhlas dan siapkan ruang yang cukup di hati masing-masing untuk menerima nasihat tersebut!” begitu instruksi Ust. Hakim saat memulai sessie majelis pagi. Heninglah suasana sesuai instruksi beliau, tanpa ada suara sedikitpun. Kulihat semua teman-teman terpejam matanya seraya meletakkan kedua tangan di dada, sambil komat-kamit seperti melantunkan doa.

Tiga menit berlalu.  Ust Hakim bertanya kepada kami, apakah kami mau mendengar apa yang beliau nasihatkan pada diri sendiri. Tentu kami penasaran, sehingga adik kelasku yang bernama Farhan sontak mengatakan, “Apa Ustadz, kami mau tahu!” Ust. Hakim menyatakan bahwa ada tiga nasihat yang beliau utarakan pada diri sendiri, yaitu:

  1. Jadikan Sabar dan shalat sebagai penolongmu. Bersabarlah atas segala ujian, musibah dan masalah yang datang. Dan barengilah dengan mendirikan sholat. Niscaya Allah akan menolongnya.

  2. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, karena Allah dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.

  3. Cintai dan sayangi murid-muridmu sebagaimana anakmu sendiri, bahkan sayangi mereka sebagaimana seperti engkau menyayangi dirimu sendiri. Bahkan upayakan lebih engkau sayangi karena keimanan kepada Allah swt.

Setelah Ust Hakim menyampaikan nasihat untuk dirinya, sahabatku Ruri ingin juga menyampaikan nasihat untuk dirinya. Berikut tiga nasihat yang ia sampaikan:

  1. Saat dipanggil Allah swt sedang dalam keimanan yang tinggi, sehingga bertemu dengan Sang Khaliq Husnul Khotimah (penghabisan yang baik).

  2. Memberikan semangat pada diri sendiri agar menjadi hafidz Qur’an.

  3. Menjadi orang yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Tidak mau kalah dengan Ruri, adik kelasku yang bernama Farhan mengacungkan telunjuknya dan meminta izin mengungkapkan apa yang menjadi nasihat pada dirinya sendiri, ia sampaikan bahwa dirinya diberi nasihat agar:

  1. Selalu berbakti kepada kedua orangtua

  2. Jika diberikan amanah sebagai pemimpin, maka menjadi pemimpin yang baik dan dapat diteladani oleh semua orang.

  3. Selalu berupaya untuk berguna dan disenangi oleh orang lain.

Setelah Farhan, adik kelasku yang saat ini duduk di kelas VII Ibnu Rusyd ini. Temanku Mufida, Si Hafizhah yang hafal Al-Quran juga diberi kesempatan oleh Ust. Hakim untuk menyampaikan kepada kami apa yang menjadi nasihat diri sendiri, yang juga menginspirasi kami:

  1. Selalu ingat Allah, dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun.

  2. Selalu optimis dan bersemangat untuk mencapai kesuksesan

  3. Istiqomah, melakukan secara terus menerus kebaikan walaupun itu sedikit demi sedikit.

Terakhir, Fathiya Zahida yang akrab dipanggil Za juga mengungkapkan nasihatnya:

  1. Selalu menyayangi semua orang, apalagi teman-teman sendiri.

  2. Selalu ingin membanggakan orang lain.

  3. Menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Subhanallah, hari ini banyak sekali inspirasi dan nasihat buat kami. Bisa jadi itu merupakan nasihat untuk diri sendiri. Tapi, setelah aku fikir kembali, semua nasihat-nasihat itu tepat juga buat aku. Ya Allah, jadikan aku orang yang selalu berakhlakul karimah. Baik dalam bersikap, santun dalam berucap dan terjaga dalam semua tindakan yang kulakukan. Amin.

 

#Seperti yang ditulis oleh ananda Muhammad Rizki dalam cerita narasi, pelajaran Bahasa Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *