KEAJAIBAN INFAQ, Sepenggal kisah nyata berinfaq

Hari Jum’at, hari di mana sedekah itu dianjurkan, berbuat baik dibalas pahalanya berkali-kali lipat, dan para lelaki diharuskan melaksanakan sholat Jum’at. Selain itu, Jum’at adalah hari yang penuh berkah, penghulu daripada hari-hari lainnya. Dan hari ini, adalah hari Jum’at.

Matahari sedang bersinar tepat di atas kepala saat ini. Entah kenapa, tenggorokanku kering lebih cepat dari biasanya. Aku terdiam sejenak, memikirkan solusi untuk menghilangkan dahagaku. Tiba-tiba sebuah ide muncul, membuat senyum terlukis di wajahku.

“Es Teh manis…!! Kenapa tidak terpikir olehku sejak tadi?” batinku.

Tanganku otomatis merogoh saku. Saat kutarik, keluarlah selembar uang kertas berwarna hijau, dua puluh ribu rupiah. Tentu saja, ini lebih dari cukup. Bahkan aku bisa mentraktir teman-temanku. Dengan riang gembira bak mendapat durian runtuh, aku berlari menuju koperasi. Eits… tiba-tiba…..

Di tengah jalan sebuah kotak amal menghadang.

“Infaq dulu, Za!” tutur gadis di sebelah kotak amal, dan sontak akut tercekat membisu di dekat kotak itu. Badanku terdiam membeku. Gadis itu melirik uang di tanganku, tanpa basa-basi ia menarik uang itu dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut.

“Kakaaaaaaak…!” Aku teriak histeris.

Gadis itu memang kakak kelasku. Dan dia terkenal blak-blakkan tanpa basa-basi melakukan sesuatu sesuai keinginannya.

“Kenapa?” balasnya dengan nada ketus.

“Aku haus!, aku mau minum es teh di koperasi. Dan gara-gara kakak, sekarang itu hanya angan-angan belaka. Aku tidak bisa membeli es teh yang menghilangkan dahagaku kan kak…!” bantahku gusar.

“Adik kelasku yang manis…. yang selalu ikhlas. Infaq itu bisa membuatmu memiliki nilai yang berkali-kali lipat. Kamu nggak mau?” Jelasnya, berusaha meyakinkanku yang masih kesal.

Aku diam, lalu mendesah dan pergi. Tidak ada gunanya mendebat kakak kelas. Selalu saja kalah argumentasinya.

Bel pulang sekolah telah berdering. Ojekku sudah menunggu di luar gerbang sekolah. Dengan langkah gontai, aku menaiki motor. Kendaraan roda dua itu melaju dengan iringan hatiku yang masih diwarnai kesal dan membuat moodku jadi jelek. Aku berusaha ikhlas dan belajar untuk merelakan uangku. Aku berfikir, jika aku terus mengumpat dan menyesali kejadian tadi, uang itu tidak akan kembali.

“Baiklah, aku ikhlaskan ya Allah… Aku ikhlas!. Terimalah sedekahku ya Allah” batinku dalam hati. Tiba-tiba, “Ciiiiittttt……….!”. “Alhamdulillah…!” aku terkejut mendengar ojekku berteriak seperti itu. Aku langsug melihat ke depan. Ternyata, sebatang pohon tumbang dan hampir saja menimpa motor ojekku. Aku hampir mati.

“Untung saja!, Nggak mungkin. Ini sebuah keajaiban. Ini adalah pertolongan Allah!” Batinku. Aku langsung teringat bahwa hari ini aku telah berbuat baik, dengan sedekah. Dan berusaha untuk ikhlas. Ternyata benar, aku ditolong Allah.

Seorang pengendara motor di sebelahku berdecak, dan aku masing tertegun dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

Keajaiban? Ya, Ini pasti tidak terlepas dari infak itu. Ini berkat infaq itu. Kata kakak kelasku, aku bisa memiliki yang berkali-kali lipat dari pada sekedar teh. Benar, nyawaku memang berkali-kali lipat dari sekadar teh. Dan uang Rp 20 ribu itu bisa menyelamatkan dua nyawa sekaligus: aku dan pengendara ojekku. Alhamdulillah.

Aku menoleh, lalu tersenyum pada pengendara motor di sebelahku. Sang Pengendara terkejut, lalu aku berkata padanya, “Pak, itu keajaiban. Lebih tepatnya, keajaiban karena infaq Rp 20 ribu!” pengendara itu tertegun mendengar kalimatku.

 

zaFathiya Zahida, Siswi kelas VII Ibnu Rusyd SMPIT Insan Mandiri-Kalisari, Sepenggal kisah nyata hidupku

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *