Jelang USBN 2018, SMPIT Insan Mandiri Gelar Doa Bersama

JAKARTA – Ujian Nasional 2018 baik USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) atau pun UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang akan dilaksanakan sebentar lagi dijadikan momentum oleh SMPIT Insan Mandiri Kalisari untuk menguatkan karakter siswa melalui kegiatan ‘DOA BERSAMA MENJELANG USBN 2018’.  Pada Jumat, 6 April 2018 seluruh siswa dikumpulkan di Aula serbaguna bersama orangtua kelas 9 untuk memohon kekuatan dari Allah swt.

Kegiatan yang mengharukan ini, didahului dengan membaca secara bersama-sama AlQuran Surah Arrahman ayat 1 hingga ayat 40 yang dipimpin oleh Ananda Haekal Anbiya. Haekal membacakan bacaan ayat demi Ayat dengan fasih dan suara yang menggetarkan hati. Ia pun telah hafal surah tersebut sehingga mampu membawa suasana awal menjadi lebih meningkatkan ruhiyah.

Menurut Kepala SMPIT Insan Mandiri Kalisari, Abdul Hakim, MM. kegiatan ini merupakan momentum untuk menguatkan karakter siswa agar lebih mendekatkan diri kepada Allah dan orangtua.

“Kalian tidak akan dapat mendapatkan ridho Allah swt, jika orangtua kalian tidak ridho. Maka raihlah keridoan orangtua. Mintalah maaf, restu, dan dukungan orangtua agar nanti kalian dipermudah Allah swt dan sukses mendapatkan hasil ujian,” ungkap Hakim saat sambutan pembuka kegiatan kepada seluruh siswa SMPIT Insan Mandiri.

Menurut Hakim, harapannya dengan kegiatan yang digelar ini akan mampu membuka tabir kasih sayang orangtua dan anak, begitupun sebaliknya. Anak-anak akan lebih berbakti, hormat, santun, dan tentu menjadi harapan semua orangtua agar anaknya menjadi anak yang soleh.

Saat seorang siswi membacakan untaian doa, pecahlah suasana menjadi haru. Aula serbaguna menjadi saksi deraian airmata. (baca: Untaian Doa Bersama Menjelang USBN 2018 Oleh Siswi SMPIT Insan Mandiri) Adalah Tsabita Sobiroh, siswi kelas 9 Al-Kindi yang membacakan untaian doa penuh penghayatan. Di dalam untaian doanya, ia selipkan permohonan maaf kepada kedua orangtuanya.

“Ayah…. ibu, Kami sadari… bahwa keridoan dan restumu amat berarti buat kami. Ketulusan maafmu, ridhomu adalah penguak keridhoan Allah Swt. Maka itu, Terimalah permintaan maaf anakmu. Sebanyak itu bukti kasih sayangmu kepada kami, sebanyak itu pula salah dan dosa kami padamu, ayah… ibu. Pandangan mata dan kalimat sinis yang keluar dari lisan anakmu ini, jika ada satu saja permintaan kami yang tidak engkau kabulkan. Seringkali kata-kata yang mengiris hati, menyakiti hatimu. Betapa banyak nasihat dan permintaanmu Ayah, Ibu yang kami acuhkan begitu saja,” pinta Tsbita.

Selepas Tsabita membacakan untaian doa dan kalimat permohonan maafnya, tibalah saat orangtua menjawab untaian doa tersebut yang diwakili oleh Bu Darsih, bunda Tsabita Sobiroh. Dalam untaian nasihatnya, ia mengungkap keinginan setiap orangtua. (bacaUntaian Nasihat & Keridhoan Orangtua Siswa Kelas 9)

“Tahukah Nak, Asal dirimu bahagia, ayah dan ibu rela walau harus menyerahkan nyawa. Biarlah kami sakit asal engkau sehat; biarlah kami kelaparan asal engkau kenyang; biarlah kami kedinginan asal  dirimu berpakaian. Biarlah kami bersusah-payah demi kebahagiaanmu. Sungguh, Ayah-Ibu ingin punya anak yang soleh. Yang rajin solat, mengaji. rajin belajar menuntut ilmu. Taat pada orang tua. Kami harap jika telah tua renta nanti, kami akan disayang, dirawat, dan diperhatikan. Setelah mati, doa-doa anak yang soleh bisa mengurangi beratnya azab kubur, bisa melapangkan sempitnya kubur. Selagi ayah dan ibu mampu, dan itu baik bagimu, semua permintaanmu akan ayah ibu kabulkan. Semua salah dan dosamu pada ayah dan ibu kemarin, sekarang, dan esok sudah kami maafkan. Semoga engkau sukses dalam menjalani Ujian Nasional yang sebentar lagi datang,” ungkapnya dalam untaian tersebut.

Kegiatan ini ditutup dengan doa dan permohonan maaf anak kepada orangtua. Pecahlah tangisan semua siswa yang dibarengi bulir-bulir air mata yang keluar dari kedua kelopak mata orangtua. Semoga kalian sukses menempuh ujian dan menjadi anak yang berbakti. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *